Profil Susi Pudjiastuti: Menteri Kelautan dan Perikanan

profil susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti adalah seorang perempuan pekerja keras yang merintis bisnisnya dari bawah. Beliau sudah merintis usahanya jualan ikan di Tempat Pelelangan ikan. Kegigihan beliau dan berkat prestasinya, presiden terpilih jokowidodo memilih wanita hebat ini menjadi menteri kelautan dan perikanan.

Wanita yang lahir pada tanggal 16 januari 1965 ini sudah menekuni bisnis dari SMA. Saat itu Susi pudjiastuti memilih Droup-out dari SMA demi menekuni pekerjaannya. Banyak keluarga yang protes keputusannya untuk DO dari SMA karena beliau cukup berprestasi di sekolah pada masa itu.

Berkat keuletan dan ketekunannya, Susi Pudjiastuti menjelma menjadi pengusaha ekspor ikan dengan omzet milyaran rupiah tiap bulan. Ia memegang peranan sebagai Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan yang mencapai pasar Asia dan Amerika.

Istri dari lelaki Jerman bernama Christian von Strombeck ini juga pendiri maskapai penerbangan Susi Air. Susi Pudjiastuti juga membuka sekolah pilot bernama Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School.

Anak perempuan juragan sapi bernama Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah yang berasal dari Jawa Tengah ini telah menerima banyak penghargaan, di antarnya adalah Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden RI.

Kemudian, Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005, Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo, Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2009, dan masih banyak yang lainnya.

“Namun bila ada masalah dan saya harus memilih antara keluarga dan bisnis, maka saya akan memilih bisnis. Saya pasti akan memperjuangkan keutuhan keluarga, tapi bisnis adalah untuk keluarga. bila saya kehilangan pekerjaan, saya pasti kehilangan keluarga. maka saya memilih bertahan untuk bisnis saya.” Mungkin karena ia beranggapan bahwa bisnis adalah sebuah amanah, harus memberikan manfaat kepada banyak orang yang tergantung padanya. Sejak tahun 2000 lalu, ia sudah membuat testamen yang mengatakan bahwa kelak anak-anaknya tidak mewarisi seluruh perusahaannya, melainkan devidennya sebanyak 20%. Setelah pensiun, ia akan menyerahkan perusahaan kepada Yayasan Kaji Ireng yang dibangunnya untuk kepentingan masyarakat, dan menyerahkan pengelolaannya kepada managemen professional.


loading...
Tags:
loading...