Saturday , April 18 2026
Universitas Pertamina Sebut Pelibatan Publik Merupakan Kunci Keberhasilan Proyek Energi

Universitas Pertamina Sebut Pelibatan Publik Merupakan Kunci Keberhasilan Proyek Energi

Pembangunan proyek energi di Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana, terutama terkait penerimaan masyarakat di wilayah terdampak. Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2024 mencatat sebanyak 114 pengaduan terkait Proyek Strategis Nasional sepanjang 2020 hingga 2023, dengan sektor energi dan pertambangan mendominasi laporan tersebut. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan energi tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial.

Melalui penelitian terbaru, Universitas Pertamina menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif, transparansi, serta kepercayaan masyarakat dalam menentukan keberhasilan proyek energi. Pendekatan yang hanya berfokus pada teknologi dan investasi dinilai tidak cukup tanpa adanya keterlibatan masyarakat secara aktif sejak tahap awal perencanaan.

Penelitian tersebut juga mengangkat penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS), yaitu teknologi yang berfungsi menangkap emisi karbon dioksida dari aktivitas industri agar tidak terlepas ke atmosfer. Teknologi tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung upaya pengendalian perubahan iklim, terutama dalam konteks transisi energi menuju sistem yang lebih berkelanjutan.

Tim peneliti dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina yang dipimpin oleh Dr. Ir. Farah Mulyasari, S.T., M.Sc., bersama Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom., dan Ita Musfirowati Hanika, M.I.Kom., melakukan kajian di tiga wilayah, yaitu Luwuk, Blora, dan Karawang. Penelitian dilakukan melalui metode survei serta wawancara mendalam untuk memahami persepsi masyarakat terhadap proyek energi, termasuk tingkat pemahaman dan kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat sering kali tidak disebabkan oleh teknologi yang digunakan, melainkan oleh kurangnya pelibatan publik, keterbatasan informasi, serta kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan sosial. Hal tersebut menegaskan bahwa komunikasi yang terbuka dan partisipatif menjadi faktor penting dalam membangun penerimaan masyarakat.

Menurut Dr. Farah Mulyasari, setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, sehingga pendekatan komunikasi tidak dapat diseragamkan. Peran pemerintah daerah, tokoh adat, media lokal, serta komunitas menjadi sangat penting dalam membangun kepercayaan dan menjembatani hubungan antara proyek energi dan masyarakat.

Secara global, International Energy Agency pada tahun 2023 memperkirakan bahwa teknologi CCUS mampu menangkap hingga 90 persen emisi karbon dari sektor industri dan pembangkit listrik. Potensi tersebut menjadikan CCUS sebagai salah satu teknologi kunci dalam upaya menekan emisi karbon dunia hingga tahun 2050.

Meski demikian, Universitas Pertamina menekankan bahwa keberhasilan proyek energi tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi dan dukungan finansial. Penerimaan sosial menjadi faktor penentu yang tidak dapat diabaikan. Tanpa adanya pelibatan masyarakat yang bermakna, proyek berisiko menghadapi konflik sosial, keterlambatan, hingga kegagalan implementasi.

Pendekatan social license to operate atau izin sosial menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diposisikan sebagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam proses pengambilan keputusan, sehingga proyek energi dapat berjalan dengan dukungan yang lebih luas.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan energi yang berkelanjutan. Riset yang dihasilkan diharapkan mampu menjembatani kebutuhan industri dengan aspirasi masyarakat secara lebih seimbang.

Penelitian tersebut sekaligus memperkuat posisi Universitas Pertamina sebagai pusat kajian energi dan komunikasi publik yang berfokus pada isu keberlanjutan. Komitmen tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin 13 terkait penanganan perubahan iklim.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik mendalami isu komunikasi publik, energi, serta perubahan iklim, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina menawarkan pembelajaran berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan dunia nyata. Mahasiswa akan dibekali pemahaman mengenai komunikasi risiko, strategi penerimaan publik, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai proyek pembangunan. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/